Thursday, April 3, 2025
spot_img
HomeTechnoStudi MIT dan OpenAI: Sering Bicara dengan ChatGPT Bisa Tingkatkan Rasa Kesepian

Studi MIT dan OpenAI: Sering Bicara dengan ChatGPT Bisa Tingkatkan Rasa Kesepian

NawaBineka – Penggunaan chatbot berbasis kecerdasan buatan seperti ChatGPT ternyata memiliki hubungan erat dengan meningkatnya perasaan kesepian penggunanya. Hal ini terungkap dalam dua studi terbaru yang dilakukan oleh OpenAI bersama MIT Media Lab.

Temuan ini menjadi perhatian, mengingat makin populernya penggunaan chatbot sebagai teman bicara sehari-hari.

Baca Juga: Gimana Rasanya Balik Kampung Tanpa Sinyal?

Studi pertama dari OpenAI melibatkan analisis lebih dari 40 juta interaksi pengguna dengan ChatGPT serta survei pengguna secara spesifik. Sedangkan studi kedua oleh MIT Media Lab mengikuti perilaku pengguna ChatGPT selama empat minggu berturut-turut.

Penelitian MIT menemukan bahwa secara umum, semakin sering seseorang berbicara dengan ChatGPT, maka rasa kesepian yang mereka alami cenderung meningkat.

Selain itu, pengguna juga dilaporkan mengalami penurunan interaksi sosial dengan sesama manusia. Temuan ini semakin menegaskan bahwa interaksi dengan kecerdasan buatan memiliki dampak emosional yang signifikan pada penggunanya.

Lebih spesifik lagi, pengguna yang telah membangun kepercayaan atau kecenderungan untuk terikat secara emosional dalam hubungan sosialnya, justru merasakan dampak negatif yang lebih besar dari penggunaan ChatGPT. Mereka cenderung merasa lebih kesepian dan memiliki ketergantungan emosional terhadap chatbot tersebut.

Meski begitu, penelitian ini juga menemukan perbedaan dampak berdasarkan mode interaksi. Pengguna yang berinteraksi melalui mode suara dengan nada netral mengalami dampak yang lebih ringan dibandingkan pengguna yang berinteraksi melalui teks.

Di sisi lain, percakapan mengenai topik pribadi dengan ChatGPT secara jangka pendek justru meningkatkan rasa kesepian. Sementara percakapan tentang topik yang lebih umum malah meningkatkan ketergantungan emosional terhadap chatbot dalam jangka panjang.

Menariknya, penelitian OpenAI menunjukkan bahwa meskipun percakapan emosional dengan ChatGPT berdampak negatif, jumlah pengguna yang melakukan percakapan emosional tersebut sebenarnya tidak banyak.

Mayoritas pengguna hanya menggunakan chatbot dalam konteks interaksi biasa, bukan untuk membahas perasaan pribadi secara mendalam.

“Interaksi yang ekspresif secara emosional hanya ditemukan pada sekelompok kecil pengguna yang menggunakan Mode Suara Lanjutan,” tulis OpenAI seperti dikutip dari Engadget, Minggu (23/3/2025).

Meski begitu, para peneliti mengakui bahwa penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan, antara lain periode pengamatan yang relatif singkat, yakni satu bulan untuk studi MIT dan 28 hari untuk OpenAI, serta ketiadaan kelompok kontrol sebagai perbandingan.

Namun, studi ini memperkuat temuan sebelumnya yang telah lama diyakini, bahwa berbicara dengan kecerdasan buatan tidak sepenuhnya netral secara psikologis.

Mengingat kecenderungan makin luasnya penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari—mulai dari video game hingga konten kreatif—temuan ini dianggap penting sebagai bahan evaluasi lanjutan tentang dampak jangka panjang dari interaksi manusia dengan AI.

Dengan makin populernya ChatGPT serta layanan chatbot serupa di masa mendatang, studi lanjutan sangat diperlukan untuk memahami sepenuhnya bagaimana dampak emosional dan sosial dari interaksi rutin manusia dengan kecerdasan buatan.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments