Friday, April 4, 2025
spot_img
HomeNewsInternasionalKorban Gempa Myanmar 1.700 Orang Tewas, Ribuan Terluka dan Bantuan Internasional Mengalir

Korban Gempa Myanmar 1.700 Orang Tewas, Ribuan Terluka dan Bantuan Internasional Mengalir

NawaBineka – Jumlah korban jiwa akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Myanmar pada Jumat (28/3/2025) terus bertambah secara drastis. Hingga Minggu (30/3), korban tewas dilaporkan telah mencapai 1.700 orang, dengan 3.400 orang lainnya mengalami luka-luka dan lebih dari 300 orang masih hilang. Informasi ini dikutip dari laporan Reuters, Senin (31/3/2025).

Gempa yang menjadi yang terkuat di Myanmar dalam satu abad terakhir itu telah merobohkan ribuan bangunan, menghancurkan infrastruktur, dan membuat rumah sakit kewalahan menangani korban. Di sejumlah wilayah, warga bahkan terpaksa melakukan upaya penyelamatan secara mandiri dengan peralatan seadanya.

Baca Juga: Korban Tewas Gempa Myanmar Melonjak Nyaris 700 Orang, Operasi Penyelamatan Masih Berlangsung

Kepala pemerintahan militer Myanmar, Jenderal Senior Min Aung Hlaing, memperingatkan bahwa angka korban bisa terus meningkat. Ia juga menyebut bahwa pemerintahannya tengah menghadapi tantangan besar dalam merespons bencana tersebut. Dalam langkah yang jarang dilakukan, tiga hari setelah gempa, Min Aung Hlaing secara resmi meminta bantuan dari komunitas internasional.

Negara-negara tetangga seperti India, China, dan Thailand telah mengirimkan tim bantuan darurat. Bantuan serupa juga datang dari Malaysia, Singapura, dan Rusia. Sementara itu, Amerika Serikat menyatakan akan menyalurkan dana bantuan senilai US$2 juta (sekitar Rp33 miliar) melalui organisasi kemanusiaan lokal, dan akan mengerahkan tim tanggap darurat dari USAID.

Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah turut menyampaikan keprihatinannya. Dalam pernyataannya, lembaga tersebut menyebutkan bahwa kerusakan terjadi secara luas dan kebutuhan kemanusiaan terus meningkat setiap jam. “Dengan meningkatnya suhu dan musim hujan yang akan segera tiba, masyarakat yang terdampak membutuhkan bantuan stabilisasi segera untuk menghindari krisis sekunder,” tulis lembaga tersebut.

Gempa bumi ini menambah daftar panjang penderitaan rakyat Myanmar, yang selama beberapa tahun terakhir telah hidup dalam ketidakpastian akibat perang saudara pasca kudeta militer pada 2021. Kudeta tersebut menggulingkan pemerintahan sipil yang dipimpin Aung San Suu Kyi dan memicu kekacauan di seluruh negeri.

Infrastruktur penting seperti jembatan, jalan, bandara, dan rel kereta api rusak parah, menghambat upaya penyelamatan dan distribusi bantuan. Sementara itu, lebih dari 3,5 juta warga Myanmar telah menjadi pengungsi akibat konflik yang berlangsung sebelumnya, dan kini harus menghadapi bencana alam yang memperburuk situasi.

Min Aung Hlaing dalam pernyataannya menekankan pentingnya mempercepat pemulihan jalur transportasi. “Sangat penting untuk segera memulihkan rute transportasi, memperbaiki rel kereta api, dan membuka kembali bandara untuk mendukung efektivitas operasi penyelamatan,” katanya.

Pemodelan prediktif dari Badan Geologi Amerika Serikat (USGS) bahkan memperkirakan jumlah korban jiwa bisa mencapai lebih dari 10.000 orang, dengan kerugian ekonomi yang melebihi total produk domestik bruto (PDB) tahunan Myanmar.

Tragedi ini menjadi pengingat betapa rapuhnya situasi kemanusiaan di wilayah konflik ketika menghadapi bencana alam. Dunia kini mengarahkan pandangan ke Myanmar, berharap bantuan yang diberikan dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa dan mempercepat proses pemulihan di negeri yang tengah berduka ini.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments