NawaBineka – Perang dagang antara Amerika Serikat dan China telah berlangsung sejak tahun 2018, dipicu oleh kebijakan tarif yang dikenakan oleh Presiden Donald Trump terhadap barang-barang impor dari China.
Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk mengurangi defisit perdagangan AS dengan China dan melindungi industri domestik. Namun, kebijakan tersebut justru memicu respon balik dari China yang juga mengenakan tarif tinggi terhadap produk-produk asal Amerika.
Kunjungan Xi Jinping ke Malaysia
Dalam konteks tersebut, kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Malaysia menjadi sorotan. Xi menegaskan bahwa China merupakan mitra dagang yang lebih dapat diandalkan dibandingkan dengan AS.
Kunjungan ini dianggap krusial, tidak hanya untuk memperkuat hubungan bilateral antara China dan Malaysia, tetapi juga untuk menunjukkan solidaritas di tengah perang tarif.
Pernyataan Xi mencerminkan upaya untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan menunjukkan bahwa China dapat menjadi alternatif yang kuat dan stabil bagi negara-negara lain yang terpengaruh oleh kebijakan tarif AS.
Dukungan Malaysia Terhadap China
Dukungan Malaysia terhadap posisi China semakin menguat. Mantan Duta Besar Malaysia untuk AS menggarisbawahi pentingnya kerjasama ini, menyebutkan bahwa Malaysia perlu melihat China sebagai mitra strategis dalam memperkuat ekonomi nasionalnya.
Hal ini ditandai dengan meningkatnya nilai impor dari China serta upaya Malaysia untuk memanfaatkan hubungan tersebut dalam menghadapi tekanan dari kebijakan perdagangan AS.
Dampak Tarif Trump terhadap Ekonomi Global
Pemberlakuan tarif oleh negaranya, terutama AS, berdampak luas tidak hanya bagi China, tetapi juga untuk negara-negara berkembang, termasuk Malaysia. Menteri Perdagangan China, Wang Wentao, telah memperingatkan bahwa kebijakan tarif yang berkelanjutan dapat menyebabkan kerugian besar bagi negara-negara yang lebih rentan.
Akibatnya, banyak negara yang mulai mempelajari strategi perdagangan alternatif serta memperluas kerjasama dengan negara-negara mitra, termasuk China, untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan.
Respon China dan Strategi Jangka Panjang
Sebagai respon terhadap langkah-langkah agresif Trump, banyak produsen di China mulai membeberkan informasi mengenai asal biaya barang brand internasional, menunjukkan keterbukaan yang lebih besar kepada konsumen global. Ini juga diharapkan dapat mendorong konsumen untuk berpindah dari produk asal AS ke produk asal China.
Strategi jangka panjang ini menunjukkan upaya China untuk tidak hanya bertahan di tengah gempuran tarif, tetapi juga untuk membangun merek yang lebih kuat dan lebih dikenal di pasaran global.
Dukungan Malaysia terhadap China di tengah serangan tarif Trump adalah langkah strategis yang mencerminkan kebutuhan untuk beradaptasi dengan dinamika perdagangan global.
Kunjungan Xi Jinping ke Malaysia tidak hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga menegaskan posisi China sebagai mitra dagang yang lebih andal. Dalam konteks yang lebih luas, perang dagang ini telah mendorong negara-negara untuk mencari alternatif baru dalam kebijakan perdagangan mereka.